HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Tinggal dua hari lagi kita akan memperingati hari Pendidikan Nasional, saya mengajak bapak/ibu apakah guru atau bukan untuk merenung apa sebenarnya yang terjadi dengan pendidikan kita. Apakah pemerintah sudah cukup benar untuk memutuskan bahwa nasip siswa (lulus/tidak) ditentukan hanya dalam waktu 4 hari. Mengapa banyak terjadi permasalahan-permasalahan seperti yang kita lihat di media cetak/elektronik, guru curanglah, guru membocorkan soallah, guru memberikan jawabanlah, mengapa guru-guru kita yang bekerja lebih banyak amalnya dan ikhlasnya ketimbang memikirkan kesejahteraannya. eh mau mensejahterakan guru saja masih sangat susah harus melalui tes inilah, itulah. Guru oh guru betapa malangnya nasibmu. Sementara orang lain asyik mashuk bergelimang harta hasil dari korupsi. Memang saya akui guru juga salah melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu. Tapi yang lebih salah lagi adalah jika pemerintah masih mempertahankan hal ini. Jika hal ini terus dipertahankan maka setiap tahun akan terdapat guru-guru yang stress, kepala sekolah stress, siswa stress, dan orang tua pun juga stress. Momen hari pendidikan ini sangat tepat untuk kita semua untuk tidak hanya sekedar merenung tapi mencari jalan keluar dari permasalahan ini. Bagaimana menurut teman-teman ? 

 

5 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    SQ berkata,

    wah…bakal banyak yang stress bu?
    kenapa tidak jadikan hari pendidikan sebagai hari “pembebasan pikiran” ?

    …. i have new blog, wouldu join me…? :-)

  2. 2

    heri yuwandi berkata,

    Betul banget tuh. 35 bulan nyantai-nyantai aja belajar trus belajar keras dalam waktu 1 bulan sebelum UAN. Lulus deh. Kurang adil sekali 4 hari bisa menghapus usaha belajar selama lebih dari 2 Tahun.
    Tapi, apa anda punya solusi pengganti sistem tersebut ??? ^_^

    Saya kurang setuju kalau guru dianggap malang nasibnya. Walau memang banyak guru yang kurang sejahtera tapi itu bukanlah akibat nasib semata. Yang awalnya berusaha menentukan jalan hidup adalah pribadi masing-masing. Yang memilih menjadi guru adalah pribadi masing-masing. Kalau tau jadi guru akan jadi malang nasibnya, sebaiknya dari awal janganlah menjadi seorang guru. Berprofesi yang lain aja supaya nasibnya tidak malang. Hidup memang keras. Usaha dan doa harus selalu kita lakukan. Soal hasil akhir, biarlah Allah SWT yang menentukan. Jangan mengeluh dan selalu menyalahkan nasib. Toh banyak juga guru yang hidupnya berkecukupan. Saya pun banyak memiliki keluarga yang berprofesi sebagai seorang guru. Yang saya kenal mereka adalah pribadi-pribadi yang tegar, ikhlas dan tidak pernah menyalahkan nasib. Kenapa? Karena mereka punya tekad yang kuat untuk menjadi guru yang baik. Sejak awal sudah berniat menjadi guru dengan segala konsekwensi nya. Dan bukan menjadi guru karena “nasib”.

    Btw, salam kenal ya… ^_^

  3. 3

    faiq dzaki berkata,

    Benar bu. Sepertinya proses belajar mereka tidak dihargai. Hanya produknya saja, itupun dalam waktu 4 hari. Bayangkan bagaimana perjuangan anak-anak di daerah terpencil yang penuh semangat berangkat ke sekolah. Tapi karena kurangnya fasilitas yang dimiliki sekolah, pencapaian hasil belajar mereka tidak bisa maksimal. Ibu bisa baca tulisan teman saya tentang anak Papua (Seandainya Salomena tidak Lulus UN) di http://suhadinet.wordpress.com.
    Selamat Hari Pendidikan!
    Maju pendidikan Indonesia!

  4. 4

    faujiah67 berkata,

    Terima kasih atas komentarnya. Salam kenal bagi yang belum kenal. Semoga sistem pendidikan kita semakin baik

  5. 5

    Zul ... berkata,

    Hari Pendidikan Nasional kadang berubah menjadi Hari Menghardik Nasional ketika keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik tidak terpenuhi.

    Selamat Hardiknas 2008!

    Sukses pendidikan Indonesia.

    Tabik!


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda